BREAKING NEWS

Category 5

Category 6

Category 7

Category 1

Category 2

Category 3

Category 4

Rabu, 21 Agustus 2019

Industri Menjerit Minta Pemerintah Kembali Impor Garam

ILUSTRASI. Industri meminta pemerintah segera merealisasikan sisa kuota impor garam 2019. Banyak karyawan terkena PHK lantaran bahan baku industri tersebut kosong. (Radar Madura/Jawa Pos Group)

JawaPos.com – Hingga semester-I 2019, realisasi impor garam mencapai 1,543 juta ton. Angka ini sudah melampaui 50 persen dari kuota impor yang sebesar 2,7 juta ton.
Meski sudah banyak yang direalisasikan, pelaku industri masih ‘merengek’ agar pemerintah kembali mengimpor garam. Sekretaris Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Cucu Sutara mendesak pemerintah segera menggunakan sisa kuota impor tersebut.

Pasalnya, saat ini industri tengah melesu seiring dengan kurangnya pasokan garam. Khususnya, industri yang bergerak di sektor aneka pangan, industri kertas, industri kimia dan industri Chlor Alkali Plant (CAP).
“Kami ingin yang 2,7 juta ton direalisasikan seluruhnya. Karena ini kebutuhan sangat mendesak,” kata Cucu di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (20/8).
Cucu mencatatkan, realisasi garam impor sebesar 1,543 juta ton kini hanya tinggal tersisa 77 ribu ton saja untuk garam industri. Dengan angka itu, pihaknya memprediksi stok tersebut hanya bisa bertahan sampai September 2019.

Bahkan dari informasinya, beberapa industri telah habis stok garam sejak lama. Alhasil banyak perusahaan yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau merumahkan karyawannya.
Cucu bilang, PT Cheetam tercatat telah merumahkan 180 orang karyawannya lantaran bahan baku telah habis. Padahal perusahaan tersebut ialah supplier aneka pangan kepada perusahaan-perusahaan besar, misalnya saja PT Indofood, Wingsfood dan Unilever.
“Jadi, perusahaan penyuplai sekarang sudah merumahkan karyawannya, stop produksi, karena sudah habis bahan baku,” bebernya.
Hal itu dikarenakan kebutuhan industri akan impor garam masih besar. Dari catatannya, industri membutuhkan garam impor lebih dari 2 juta ton setiap tahunnya untuk dapat melakukan kegiatan produksi. Dari jumlah tersebut, industri makanan paling banyak menghabiskan kuota dengan menyerap 567 ribu ton per tahun.
Ditemui terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti Poerwadi menyatakan, pemerintah belum memutuskan apakah akan kembali mengimpor garam atau tidak untuk memenuhi kebutuhan industri. Sampai saat ini, pemerintah masih menerima dan mengidentifikasi aspirasi dari pelaku industri.
“Pak Menko (perekonomian), nggak ada keputusan nambah dulu, masih mendengarkan,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, aturan kuota impor garam sebesar 2,7 juta ton diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2018 tentang tata cara pengendalian impor komoditas perikanan dan komoditas pergaraman sebagai bahan baku dan bahan penolong industri. Mengacu aturan tersebut, maka jatah impor garam yang masih tersisa sekitar 1,1 juta ton.

Editor : Estu Suryowati
Reporter : Igman Ibrahim

Sabtu, 17 Agustus 2019

Upacara di Cepokomulyo

Dengan penuh khidmat, ratusan warga Jalan Semboja, Kelurahan Cepokomulyo, Kepanjen yang menjadi peserta upacara, memberikan penghormatan pada sang saka Merah Putih yang berkibar, Sabtu (17/8/2019) pagi.

Malang (beritajatim.com) – Detik detik Upacara Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-74 diperingati secara khidmat seluruh warga RT 23/RW 03 Jalan Semboja, Kelurahan Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (17/8/2019) pagi.
Dengan penuh khidmat, ratusan warga yang menjadi peserta upacara, memberikan penghormatan pada sang saka Merah Putih yang berkibar. Tak mau kalah dengan upacara resmi kenegaraan, langkah tegap pengibar bendera dan pembacaan teks Proklamasi pun berjalan sempurna.
Yang unik, seluruh peserta, petugas dan inspektur upacara, bebas menggunakan pakaian adat yang mencerminkan Kebhinekaan Tunggal Eka.

“Kami ingin menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi pada seluruh masyarakat. Khususnya, generasi muda bangsa Indonesia. Karena dengan kecanggihan teknologi saat ini, generasi milenial mulai mengalami degradasi terhadap persatuan dan kesatuan bangsanya. Jangan sampai rasa nasionalisme di jiwa tergerus,” ungkap Dadang Solikin, warga Jalan Semboja, Kelurahan Cepokomulyo sekaligus Ketua Panitia, Sabtu (17/8/2019).

Menurut Dadang yang juga Guru sekolah ini, rasa nasionalisme wajib dimiliki seluruh generasi muda. Dengan menggelar upacara bendera hari ini, pihaknya berharap masyarakat di kampung Sembojan dan Cepokomulyo pada umumnya, tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.
“Peran generasi muda yang unggul, sangat dibutuhkan bangsa Indonesia di masa mendatang. NKRI harus kita jaga bersama sampai kapan pun,” tuturnya.


Sejumlah busana adat pun dikenakan para peserta upacara. Warga bahkan rela mengeluarkan uang pribadi untuk mengenakan busana sewaan. Mulai daril topi polka khas negeri Belanda, pakaian wayang Gatot Kaca, suku Dayak, Jawa, Papua hingga pakaian ala pejuang kemerdekaan tempo dulu.
“Melalui busana adat daerah yang kita kenakan ini, kami ingin masyarakat mempunyai rasa kebanggaan yang tinggi akan adat istiadat dan budaya dari seluruh pelosok nusantara. Dirgahayu Indonesia ke 74, Merdeka,” Dadang mengakhiri. [yog/suf]

Kamis, 15 Agustus 2019

Unjuk Rasa Papua Merdeka

Berikut suasana unjuk rasa

Upaya polisi menjaga ketertiban
 Kembali 1  2

Unjuk Rasa Mahasiswa Papua


Unjuk rasa Mahasiswa Papua Merdeka di perempatan Jl.Basuki Rahmat Malang.

Jam 09.00 Sekitar 100 Mahasiswa Papua di malang melakukan unjuk rasa tanpa ijin dan berusaha menutup jalan utama Basuki Rahmat Malang,sempat terjadi bentrokan dengan pihak aparat kepolisian dan TNI.
Massa berhasil digeser ke pinggir perempatan jalan.
Saat ini situasi masih tegang antara aparat dan pihak unjukrasa.

Tuntutan pembebasan mahasiswa papua yg ditahan di Polda papua dan Papua Merdeka.

Menuju 1. 3

Massa Bikin Rusuh di Jalan Kayu Tangan Kota Malang

KOTA MALANG – Pagi ini (15/8) perempatan BCA Jalan Jendral Basuki Rahmat dikepung sekelompok orang. Berdasarkan keterangan warga, segerombolan orang itu menyerang warga dan pertokoan disekitar kawasan tersebut.
“Ada orang Jawa tadi yang dilempari sampai berdarah. Terus dibawa ke rumah sakit. Mereka bawa batu besar,” ungkap seorang wanita paruh baya bernama Dama.
Warga Tajinan itu juga sempat melihat kelompok tersebut melempari pertokoan disekitar. Dama yang tengah berada di lokasi pun langsung berlari menyelamatkam diri ke arah Jalan Kahuripan.
Sedangkan salah satu warga yang tidak ingin disebut namanya mengatakan bahwa kelompok yang menyerang itu berkulit gelap. Kata dia mirip dengan warga Indonesia bagian timur.
“Orangnya kayak Papua gitu. Pakai masker juga ada hitam. Mereka bawa batu-batu besar,” katanya.
Saat ini beberapa polisi dan TNI telah berjaga. Jalan Kahuripan dan sekitarnya ditutup polisi untuk mengamankan jalanan. Dari kejauhan juga tampak ambulance dan petugas PSC 119 Kota Malang yang berjaga. Masyarakat yang penasaran pun juga terlihat berhenti menyaksikan peristiwa tersebut.
Pewarta: Rida Ayu
Foto: Bob Bimantara
Penyunting: Fia
Sumber : Malang Kota
Klik Info terkait
 
Copyright © 2013 Kabupaten Malang
Distributed By Free Premium Themes. Powered byBlogger