Hamid Rusdi
  • Tokoh Politik
  • Β·
  • 18 September 2026
  • Β·
  • 4 kali dibaca

Hamid Rusdi

Latar Belakang

Hamid Rusdi, dengan nama kecil Abdul Hamid, lahir pada 1911 di Desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Tanggal lahir persisnya tidak dipastikan dalam sumber yang tersedia. Ia anak kedua dari delapan bersaudara pasangan H. Umar Roesdi dan Mbok Teguh.

Masa Muda

Sejak remaja, Hamid aktif di gerakan kepanduan Pandu Ansor yang bernaung di bawah NU, juga sempat menjadi guru agama dan staf Partai NU. Ia mengawali karier sebagai sopir dan sipir di Penjara Lowokwaru, sebelum masuk dunia militer lewat pendidikan Korps Perwira PETA di Bogor (Oktober 1943–April 1944).

Perjuangan Kemerdekaan

Setelah proklamasi, Hamid Rusdi bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat yang kemudian menjadi TNI, hingga meraih pangkat Letnan Kolonel. Ia memimpin pasukan Gerilya Rakyat Kota (GRK) di wilayah Malang, menumpas pemberontakan PKI di Donomulyo pada 1948, dan pada sekitar 1949 mempelopori penggunaan bahasa walikan (bahasa terbalik khas Malang) sebagai sandi komunikasi rahasia untuk mengelabui mata-mata musuh β€” warisan yang hingga kini masih hidup dalam budaya percakapan warga Malang.

Akhir Hidup dan Warisan

Pada 7 atau 8 Maret 1949, akibat informasi yang bocor, pasukan Belanda menyergapnya di Desa Wonokoyo, Kedungkandang. Ia gugur ditembak bersama dua ajudannya di tepi Sungai Sekar Putih. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati, Malang. Namanya kini diabadikan sebagai nama terminal, jalan besar, patung di Simpang Balapan, dan bumi perkemahan di Wonokoyo, Malang.

Bagikan: